Pagi itu Dieng menyambut kami dengan udara dingin yang langsung menusuk kulit. Jaket tebal, syal, dan kupluk jadi sahabat setia. Tapi jujur saja, dinginnya udara sama sekali tidak mengalahkan hangatnya kebersamaan yang kami rasakan. Justru di situlah serunya—tertawa bersama, saling merapatkan diri, dan menikmati momen …
Dinginnya Dieng, Hangatnya Kebersamaan Kami









