Di sebuah ruangan sederhana di Desa Talunombo, Wonosobo, suasana siang itu terasa begitu tenang. Beberapa kain putih terbentang, canting kecil berisi malam panas berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Di sanalah kami melihat sebuah proses belajar yang bukan sekadar kegiatan, tetapi warisan budaya yang hidup.
Melalui rangkaian kegiatan LIVE IN, kami diajak menyelami keseharian masyarakat—salah satunya dengan ikut langsung dalam aktivitas membatik bersama warga desa. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa duduk bersila, fokus menggambar motif di atas kain. Tidak ada paksaan, tidak ada target. Yang ada hanyalah ketelatenan, kesabaran, dan kebersamaan.
Pada foto ini, terlihat seorang anak dengan penuh konsentrasi memegang canting. Tatapannya serius, tangannya perlahan mengikuti pola. Di momen inilah kami belajar bahwa membatik bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Setiap garis membutuhkan ketenangan, setiap titik mengajarkan kesabaran.
Warga Desa Talunombo dengan ramah membimbing kami—menjelaskan cara memegang canting, menjaga aliran malam, hingga makna motif yang digambar. Aktivitas ini menjadi ruang berbagi cerita: tentang kehidupan desa, tentang tradisi yang dijaga turun-temurun, dan tentang kebanggaan terhadap budaya lokal.
Program LIVE IN bukan hanya tentang tinggal di desa, tetapi tentang ikut hidup bersama desa. Melalui membatik, kami tidak hanya membawa pulang kain bermotif indah, tetapi juga pengalaman berharga—tentang menghargai proses, tentang kebersamaan lintas generasi, dan tentang budaya yang terus dijaga lewat tangan-tangan sederhana.
Desa Talunombo mengajarkan kami satu hal penting: di balik kesederhanaan, tersimpan nilai-nilai besar. Dan lewat kegiatan membatik ini, kami pulang dengan hati yang lebih kaya.

