Bertani menjadi salah satu kegiatan utama dalam rangkaian program Live In, seperti tergambar pada foto di atas. Di sebuah area persawahan desa, peserta turun langsung ke sawah, merasakan lumpur, air, dan proses awal dari kehidupan pangan yang selama ini mungkin hanya mereka kenal dari meja makan.
Dalam kegiatan ini, peserta belajar menanam padi secara tradisional. Dengan kaki terendam air dan lumpur, mereka memegang bibit padi lalu menancapkannya satu per satu ke tanah sawah. Proses sederhana ini justru menjadi pengalaman baru yang penuh makna. Tidak hanya belajar teknik dasar bertani, tetapi juga belajar kesabaran, ketelitian, dan kerja sama.
Pendamping lokal terlihat memberikan arahan, menjelaskan cara menanam yang benar, serta makna di balik setiap tahapan bertani. Interaksi ini menjadi bagian penting dari Live In—peserta tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi ikut hidup, belajar, dan bekerja bersama masyarakat desa.
Suasana kebersamaan terasa kuat. Tawa, rasa penasaran, dan sesekali ekspresi kaget karena licinnya lumpur menjadi warna tersendiri dalam kegiatan ini. Alam sekitar yang hijau dan asri memperkuat pengalaman belajar di ruang terbuka, jauh dari suasana kelas formal.
Melalui kegiatan bertani, program Live In mengajak peserta memahami bahwa pangan tidak hadir secara instan. Ada proses panjang, kerja keras, dan kearifan lokal yang menyertainya. Bertani menjadi media pembelajaran karakter—menumbuhkan rasa hormat kepada alam, petani, serta nilai-nilai kehidupan sederhana yang sarat makna.
Kegiatan ini membuktikan bahwa Live In bukan sekadar program tinggal di desa, tetapi sebuah perjalanan pembelajaran nyata. Dari sawah, peserta membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga kesadaran akan pentingnya menjaga alam, menghargai kerja petani, dan memahami kehidupan dari akar yang paling dasar.

