Pagi itu Dieng menyambut kami dengan udara dingin yang langsung menusuk kulit. Jaket tebal, syal, dan kupluk jadi sahabat setia. Tapi jujur saja, dinginnya udara sama sekali tidak mengalahkan hangatnya kebersamaan yang kami rasakan. Justru di situlah serunya—tertawa bersama, saling merapatkan diri, dan menikmati momen tanpa terburu-buru.
Kami berdiri bersama di salah satu ikon Dieng, tersenyum lebar di bawah langit biru yang cerah. Kamera mengabadikan bukan hanya wajah-wajah ceria, tapi juga cerita di balik perjalanan ini. Ada canda ringan, ada obrolan kecil, dan ada rasa syukur bisa sampai di negeri di atas awan ini bersama orang-orang yang tepat.
Dieng mengajarkan kami bahwa liburan bukan cuma soal tempat, tapi tentang siapa yang menemani perjalanan. Udara sejuk, pemandangan pegunungan, dan suasana tenang membuat kami sejenak lupa rutinitas. Waktu terasa melambat, memberi ruang untuk menikmati kebersamaan yang sering terlewatkan.
Momen berfoto bersama ini mungkin hanya beberapa detik, tapi kenangannya akan tinggal lama. Dieng memberi kami lebih dari sekadar destinasi wisata—ia menghadirkan rasa hangat di tengah dingin, tawa di tengah lelah, dan cerita indah yang akan selalu ingin kami ulangi.
Dan kami tahu, suatu hari nanti, kami akan kembali. Karena Dieng selalu punya alasan untuk dirindukan.

