Di tengah megahnya Kompleks Candi Arjuna, saat langit Dieng membiru dan angin pegunungan berhembus pelan, suasana pagi itu terasa begitu sakral. Barisan umat Hindu Bali duduk bersila dengan tertib, mengenakan busana adat dan ikat kepala putih. Doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, menyatu dengan keheningan alam dan sejarah yang mengelilingi mereka.
Kegiatan Tirta Yatra ini menjadi bagian dari perjalanan spiritual umat Hindu Bali yang datang ke Dieng—sebuah tanah yang sejak lama dikenal sebagai kawasan suci dan penuh nilai peradaban. Candi Arjuna, peninggalan Hindu tertua di Pulau Jawa, bukan hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga ruang perenungan dan pemujaan yang hidup hingga hari ini.
Dalam foto ini, terlihat para peserta Tirta Yatra mengikuti rangkaian persembahyangan dengan penuh ketenangan. Di hadapan bangunan batu yang telah berdiri berabad-abad, mereka menundukkan kepala, menyatukan pikiran dan rasa syukur. Prosesi dipimpin dengan tata cara yang sakral, diiringi persembahan dan doa sebagai bentuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Yang membuat momen ini begitu istimewa adalah perjumpaan antara spiritualitas dan alam. Latar perbukitan hijau Dieng, udara sejuk, serta suasana candi yang tenang menghadirkan pengalaman batin yang mendalam. Tirta Yatra di tempat ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan jiwa—mengingatkan manusia pada asal-usul, keseimbangan, dan harmoni semesta.
Kehadiran umat Hindu Bali di Kompleks Candi Arjuna juga menjadi simbol toleransi dan keberagaman budaya di Indonesia. Di satu ruang yang sama, sejarah, kepercayaan, dan pariwisata berpadu dengan saling menghormati.
Melalui kegiatan Tirta Yatra ini, Dieng kembali menegaskan dirinya sebagai tanah spiritual—tempat di mana doa-doa dari berbagai penjuru dapat berlabuh dengan damai. Sebuah pengalaman yang bukan hanya indah untuk disaksikan, tetapi juga sarat makna untuk direnungkan.

